Thursday, November 5, 2015

Tahun Kambing DSTnya


[ben abel, 2004/Kambing]


Korban. Mereka terus menjadi korban. Dan saat ini pun mereka bangsa yang
sama, menghadapi saat-saat menegangkan begitu lagi. Ketika pisau-pisau
sudah terbelit dipinggang para jagal. Kopiah topi baru dan pakaian indah
sampai selempang serta lawung. Lalu keramaian yang hibag menanti pembagian
daging mereka setelahnya nanti. Satu-satu mereka diseret. Diikat.
Disembelih. Dan dipotong-potong bagi kaum pakir miskin. Inilah hari korban.
Dan merekalah itu.

Tak banyak yang mengetahui sejarah perjalanan nasib mereka. Tak banyak
juga yang memperhatikan, bahwa para korban kebanyakan betina. Alasannya
sangat gampang, ujar seseorang juru gulai tersohor; Itu para bandot
mempunyai torpedo yang bikin bau tak gurih. Titik. Tapi ... ya akan selalu
ada tetapinya. Bila penjagalnya ahli. Ketaksedapan itu bisa ditangkal. Dan
itu menjadi rahasia sebagai ajian tertinggi yang mendatangkan tingkat
rezeki lain lagi. Maka itu bandot seakan kebanyakan selamat. Namun betina
yang mandul, seperti mereka berdua di sini ini. Tak peduli usia berapa.
Sekali dua kali telah dicoba campur bandot tidak berhasil. Kawin suntikpun,
malah keguguran. Tumpaslah masa depan kedalam kawah gulai resmi hari
korban. Ya, sekarang ini mereka berdua duduk menanti. Saling menyapa. Sua.
Baru kenal ketika sama-sama menghadap ajal.

'Kenapa kau tak nampak sedih nDuq'
Sambil mengunyah rumput kering sisa, yang nDuq menyatakan: 'Sudah
pengalaman nDiz, taon kemarin aku dibawa kesini juga, tapi langit
memperpanjang hidupku. Ketika entah berapa kita telah dibantai dan
dicingcang bagirata kesemua orang kota, tiba-tiba langit rontokkan hujan
badai. Kilat sambar. Halilintar tak gentar-gentar seperti menampar bumi,
para manusia itu bubar entah kemana. Dan aku kembali kesini hari ini. Tahun
ini.'
'Hm, aku sudah melihat hidupku sendiri di depan hidung.' Dan keramaian
menelannya. Juga embek beberapa mereka yang sedang digiring. Diikat.
Digeret. Menggelepar.
'Tenanglah, nasib para mandulan seperti kita tidaklah seburuk yang
disangka. Coba ingatlah masa-masa para bandot itu memperagakan
kejantanannya. Cis, jorok amat'
Temannya tertawa pelan. Terbanyang olehnya tak lebih dari sepuluh bandot
ikut mencoba. Sampai beberapa sempat patah kaki segala. Saking semangat.
Ada juga yang saking bernafsunya sampai tercebur ke parit. Lalu terbirit
sendiri seperti kambing ketakutan hujan.
'Ya, tertawalah puas-puas. Kau tau, keindahan tertinggi sampai tingkat
ekstasi akan selalu datang disaat-saat menjelang akhir. Nikmatilah.' Dia
mengucapkan semua dengan tenang dan bersungguh sambil ikut tersenyum
bahagia sekali.
'Tetapi bagaimana jika kita tidak terpilih mati? Dipulangkan malah jadi
bulan-bulanan. Dikasih makan agar gemuk untuk dibantai dagingnya. Karena
kita bukan seperti sapi, kerbau atau kuda, mereka bisa dibawa kerja.'
'Siapa bilang bangsa kita tak tau kerja? Banyak manusia kreatif di desa.
Mereka rantaikan banyak kita, dan dijadikan penarik kereta. Habislah
punggung kita dicemeti.'
'Ya, tetap saja begitu hendak dibantai, diberi makan banyak, agar gemuk
terus disembelih'
'Tidak. Tidak. Bukan begitu nDiz. Karena daging bangsa kita dianggap
kurang. Hanya waktu tertentu diperlukan ... [terpotong suara manusia]

"Yang ini cocok mang, walau rada tua, tapi gemuknya bagus"
"Den perlu kulitnya toh?"
"Ya, untuk gedangbedug baru kita"

Berbisiklah dia kepada temannya : 'Rupanya, kinilah tiba akhirku. Kau nDiz
tak perlu bersedih. Apapun juga kita bangsa kambing adalah kambing segala
kambing yang tak kenal menyerah. Perjuangan abadi bangsa kita adalah
melanjutkan keturunan kambing. Agar bangsa kita tak lumat. Kau sama
denganku, mandul tapi tak percuma. Lihatlah, tubuh jelek bau berbulu
kekambingan kita menjadi objek kenikmatan lain bangsa. Kita bukan bangsa
murahan. Kita bukan kambing mandul tanpa harga. Disini. Saat ini. Kau
perhatikan semua. Akan kuperlihatkan kepada mereka, bahwa bangsa kambing
bukan saja menjadi teman tetapi juga memberi mereka makan. Sungguh, kurasa
hidup ragaku tak percuma.' Begitu tali-tali dilepas. Dia digiring ke arena.
Dan nDiz tak mampu membayangkan bayangan pengalaman yang tak pernah
dirasakannya itu. Apa namanya. Karena dalam kehidupan bangsa kambing tak
pernah ada kambing membunuh kambing. Disini ini, saat ini ditemukannya satu
keanehan yang mungkin baru dimengerti ketika dilewatinya semua bersama
bangsa manusia.

Ingus seperti dibiarkannya meleleh deras. Karena titik airmatanya telah
dikira tahi mata biasa. Begitu pemilih tiba maka terdengarlah bicara. Bahwa
yang satu ini nampak tak sehat. Ingusnya mungkin bentuk flu baru. Ya
mungkin SARS. Ya mungkin kena sakit kambing-gila. Jadi begitu saja
tiba-tiba datang dua orang bersarung tangan, meringkus mukanya dengan satu
sumpalan. Terus mengangkatnya ke truk yang langsung pergi keluar kota.
Disatu tepi jalan sepi berhutan. Dia dilempar sendiri kebingungan.

Setidaknya, kambing satu ini bisa selamat kali ini. Tetapi dasar kambing,
kembali ia tertangkap. Malah jadi rebutan buru. Sampai-sampai lurah harus
memutuskan perkara. Si kambing menjadi milik bersama, dan akan dijadikan
bibit, agar desa mendapat tambahan pendapatan. Sekali lagi sejarah itu
berulang. Ditemukan sang kambing temuan ini ternyata mandul. Maka tak ada
pilihan lain, harus menjadi pendaging di hari korban lagi. Ya, tahun
kambing bagi bangsa kambing akan terus dikambingkan. Walaupun musim
pemilihan berlangsung, koran-koran berseruan : "Awas kambing hitam!" Tahun
Kambing.

No comments: