Cintaku di bukit ladang
[Ben Abel]
O anak gembala meniup seruling bambu
irama suka segala lagu, tapi kentongan bambu
menyuruhnya balik, waktunya pulang menyiap makanan itik
O anak gembala terlena dipunggung lembu jantan kesayangan
sambil makan rumput punggung bergoyang seolah menimang
senyum mentari di puncak pepohonan termangu-mangu
O anak gembala menggiring angonan pulang ke kandang
serulingnya mengalun riuh menjadi melodi derap tapak gembalaannya
di tingkahi lenguh lembu memanggil anak-anaknya
O anak gembala berlari melepas topi purun
baju, pun celana, dan byur air danau menyambut telanjangnya
sapi-sapi pun tak lupa melombanya, pun itik-itik menikmati senja
O anak gembala menyukaria merenangi danau membayang wajahku
pekiknya ahoi-ahoi menyelam dalam pada butir-butir bola udara
di sambut rimba, alun hijau rerumputan, pun gamang api musim kemarau
O anak gembala lenyap ketika sapi-sapi mati tak terjawab mengapa
itik-itik lari meliar tak hendak berteman lagi
babi-babi piaraan pun menjadi buruan ketertiban desa perintah koramil
O anak gembala tidak menangis, dia diculik jin modern
menghempasnya lepas menuju yang tak pernah dimimpikan
seribu desa, seratus kota disinggahinya untuk tunaikan cerita
O anak gembala menjadi musafir lupa seruling
matanya pun sudah menengadah pada pencakar langit
meliuk pada setiap etalase, membidik tiap katalog mode terbaru
O anak gembala sekali peristiwa
menjenguk satu pertunjukan mendadak
sontak menyerukan "Cintaku di bukit ladang" --- hanya puisi
O anak gembala
patung abadi
di dalam kepalanya
[2001]
No comments:
Post a Comment