Jodohan
Sajak Ben Abel
Meja restoran warna coklat legam
berbentuk bundar, menadah semua
bangku kulit hitam melingkari separuhnya
dijubal orang berenam
"think of one" Thelonious Monk mengalun
diantara asap rokok, denting botol bir, gelas anggur
keceplok botol sampanye, pun gelak tawa
malam hiburan
gosip, cerita, canda berlaga membalada
sepekan lewat, hari ini bau badan
liuk rambut, gemerlap dandan
rangkum semua kejenuhan profesi
moncong mulut saling mengaku budak
dan keluhan bercucuran parah dari peluh sesungguh
wajah-wajah ramah bermata tanpa cahaya
kulit seperti plastik, nampak halus bersetuh cadas
seragam malam pesta, bayar sendiri-sendiri, penghuni
larut malam hilang tak berdentang
besok boleh tidur hingga petang
pabrik-pabrik memberi luang
tapi mengangkat badan serasa tak bertulang
ada keberatan tak terbilang
dibangku kulit hitam, meja bundar coklat legam
banjir kemesraan tak mungkin terbawa serta
semua tertinggal seperti bayaran bon
teronggok sampai pelayan menjemputnya
keramaian dibeli kesepian jadi mantel diri
kelotak sepatu deru kereta
genggam tangan, pagut pisahan
lambaian akhir satu pesta
hati semua terburai rata
berkeping-keping seramai lampu
di rumah, tikus pun bukan musuh
sagala piaraan diajak bicara
namanya kecintaan
cicak di dinding jodohan
jadi bahan senyuman
"think of one" Thelonious Monk mengalun
botol-botol kosong menemui kotak pengembalian
pelayan-pelayan menggoncang metropolitan
budak-budaknya terleler ketiduran
[NY city, malam tahun baru 1990]
No comments:
Post a Comment