Sahidajalisbulah
Atawa wawancara setan gundul
[ben abel.2011]
Karena bentuknya kecil dan ringan, tak pernah bersepatu dan selalu masang pakaian bekas, serta misterius, lalu gundul. Si lanang satu ini dikenallah sebagai setan gundul. Anehnya, namanya pun misterius; pengenalan ini tidak pernah jelas, apakah itulah nama dia yang sesungguhnya, ataulah cuma sekedar gelaran yang diberikan para penggemarnya. Eh, ada juga yang bukan penggemar tetapi ikut-ikutan menyebut istilah setan gudul. Namun yang jelas baik penggemar atau bukan semua orang membayangkan yang sama. Bahwa setan gundul pasti anak lelaki berkepala botak tak bersepatu dan memakai baju kumal. Setan gundul = anak lelaki?!
Secara rahasia, umumnya orang semua mengetahui bahwa setan gundul pekerjaannya adalah mencuri uang, kas. Demi memperkaya si tuannya yang telah membayar dukun cilaka sang penjajahnya itu. Tetapi bila dibuktikan oleh pengadilan, maka para jaksa dan hakim bisa dibikin sinting. Karena, pertama bagaimana anak dibawah umur bisa di adili? Kedua hukum mana yang pernah mencantum perkara setan? Begitulah setan gundul beroperasi semau-mau pikiran kreatifitas tuan-tuan dan puan-puan penyewanya. Kasihan nasib orang-orang yang terjajah. Cuma bagusnya sebagai setan gundul selama ini tak pernah kedengaran dilecehkan maupun dianiaya. Baik oleh para tukang sewanya maupun dukun-dukun para penindasnya itu. Ah, jangan tanya mengapa! Itulah jalan pikir sesat yang mengacu kepada kekuasaan yang adil dan beradap sesuai dengan keinginan kita yang mengharapkan satu penghasilan mendadak, spontan dan ketiban rezeki berdasarkan ajian beserta pantangan-pantangannya. Bukan mata duitan tetapi kepala duitan.
Dalam kesempatan langka, wartawan populer majalah terpopuler kita, akhirnya berhasil menciduk setan gundul ketika yang bersangkutan sedang asyik menikmati hasil pantangan seorang kliennya yang tak berhasil melaksanakan semua pamali; Akibatnya anak kucing dan sebelah biji zakar suaminya terpaksa diserahkan sebagai kudapan makan siang. Semua ini adalah gara-gara melepas tutup kepala ketika menggunakan kakus. Ya, gimana … ketika beliau masuk dalam keadaan kebelet, dan bau busuk kakus umum yang umumnya tidak terurus itu, melaknati hidung mancungnya, dan reflek saja diambinnya serubung kepala demi menutup kedua lubang hidungnya yang jelas tak bersalah. Sekalipun sangat manusiawi, ini bukan soal kemanusiaan, bahwa kontrak rahasia seperti ini tak ubahnya perjanjian di kalangan mafia Chicago, atau yakuza Tokyo. Harga mati! Yang gagal, ambil konsekwensi, namun bukan resiko. Inilah imbal berani. Dan ya sekalipun setan gudul selalu dijajah, sekali-sekali menikmati sebentuk kemenangan atas nama kesalahan kliennya, tentu bukan kemewahan. Apalagi mengetahui bahwa yang si nyonya justeru ikut menikmati, karena dapat kesempatan balas dendam terhadap sang suami yang diam-diam menyimpan extra perempuan. Nah disinilah kemudian menjadi persoalan dalam benak setan gundul, ternyata si klien bukan murni menghendaki kekayaan duit, tetapi fifty-fifty ….. kalo dapat banyak duit, ya dipake ke mall berhari-hari; pas kecilakaan, dia pun termesem-mesem menikmati pemandangan sang suami gelenjotan zakarnya dikudap setan gundul. Bahkan yang paling kasihan ketika anak kucing kesayangan yang sekalipun sering kena lempar gara-gara ikut meramaikan meja makan itu, berteriak-teriak sekuat tenaga memeras keringat sambil banting bulu, bahkan sampai kibasan bulunya yang penghabisan, ia terus melawan sesuatu yang bukan salahnya tetapi toh tetap jadi nasibnya begitu; sang nyonya seperti insaf, melelehkan air mata yang membanjiri kaki gunung hindung mancung hasil operasi plastik produksi duit curian setan gundul. Alhasil si kucing masuk sorga, dan sang suami pergi bolak-balik ke W.C. berkemih sepanjang malam. Saban dia mengeluh kepada isterinya, maka disambut kalem: “terlalu lama di cafĂ© sih, berapa cangkir kau minum eh selama setengah malam lebih disana? menurut dokter semakin banyak minum kopi membuat kantong kemih bergejolak seperti lava Krakatau saja.”
“Jadi anda sangat menikmati kesulitan partner dari klien anda tersebut,” ujar wartawan kita rada menuduh.
“Bukan saya dong! Itu nyonya …nyaaa sendiri in full enjoyment. Tidak ada itu guilty feeling, wong feeling mereka sudah amblas jauhari.” Seruduk setan gundul merasa dipojokkan. Serasa menginfoken bahwa hubungan bathin pasangan tersebut sudah nol derajat.Malah dalam kontak badaniah lebih enjoy service swalayan alias onani.
“Tetapi anda toh bagaimanapun mempunyai share in guilty pleasure sang nyonya sebagai klien yang menikmati hasil kerja anda”
“Perkara share hasil kerja, toh kita bersama sesuai kontrak. Saya tak punya pleasure maupun rasa guilty gitu lho. Wong dia itu juga koruptor yang dibebaskan dari tuntutan KPK”
“lha kan isunya dia korup lantaran memenuhi tuntutan anak-isterinya yang perlu barang-barang mewah terus … kan sudah diberi sang suami masih minta sama setan gundul lagi”
“lho mewah atau kena rongrong itu, bukan kambing hitamnya. Bottom line-nya dia sendiri yang tak punya tulang bokong. Individu keropos. Bapak rumah tangga bertanggung-jawab koq malah nyolong dari publik. Kan justeru memalukan anak-isterinya. Bisa-bisa isu tersebut sekedar menutupi kelemahan dia sendiri sebagai pemimpin rumah-tangga, Kepala departemen, dan public figure lagi, jantan yang palsu, gitu lho! Ya coba kalo dia hubungi dukun saya, nanti setan gundul methode yang kerja. Aman dan legal koq.”
"Udah koq, udah. Saya yang berpartisipasi" seletuk setan gundul lainnya.
“Lho koq, malahan self promotion gitu sih. Apa ini berhubungan dengan krismon dekade yang lewat?”
“maksudnya continuity in effect gitu?” sang wartawan mengangguk setuju. “ya sekali lagi anda masih memakai teori kambing hitam. Bagi saya ini soal kebutuhan yang berubah menjadi nafsu liar. Filosofi mawas dirinya itu lho … sudah amblas. Mawas diri kan prisip daripada suatu leadership. Dia itu sudah nol leadership –nya, dia merasa sudah jadi seperti kepala ular naga yang menggeret raga panjangnya tak kepalangpalang, gitu.”
“anda ikut menyalahkan?”
“lho? Ini fakta dong!” Setan gundul membentak dengan polah mata bajingnya yang bulat bundar full hitam itu.
“jadi ini memang budaya kontemporer kekuasaan atau korupsi yang menjadi budaya?”
“ lha kebudyaan itu apa?.... baca, nulis puisi, cerpen, novel, teater, nari jegreng, musik, dsbnya gitu? …. Ya itu barang dagangannya, kan yang dikejar hasil duitnya. Lha yang disebut korupsi itu hasilnya atau proses menjadi hasil? “
“biasanya cara atau prosesnya itu”
“ya jelas itulah kebudayaan; koq jadi sama dengan daya upaya manusia mempertahakan hidupnya … ini kesalahan dramatik. Masaq sesuatu yang kebudayaan koq bisa bernilai jahat? Mungkin lantaran saya tidak mengerti hukum dan hak azasi manusia sih. Dalam dunia kami semua absolut mesti hasil mencuri. Kalau ketangkap ya gagal. Paling banter dukunnya bakalan tidak laku lagi. Jika ada yang tega marah besar, habislah rumah dukun di kampung-kampung itu kena bakar semua. Kita sih cekikikan, kesempatan ganti menindas lewat tangan orang lain.”
“jadi selamanya setan gundul tidak pernah mendapat resiko dari konsekwensi gagal mencuri, yang bisa gagal dalam artian tidak sesuai besaran yang diminta, atau salah sasaran gitu.”
“ya kita relatively safe ya. Tetapi bisa saja ditinggali sang penindas, dan kita terkatung-katung tanpa perintah dan permintaan. Ini yang membuat bangsa kami terancam punah.Tanpa penindas kami bukanlah apa-apa.”
“emangnya kenapa?’
“lha kami hidup dari penindasan, permintaan dan ancaman dari perintah sambil menikmati kesalahan manusia seperti nasib si nyonya tadi …” disini terdengar suara keras melepas dari satu ruang …. Seperti dentuman isi kepala yang berdenyut terkejut bukan kepalang.
Mendengar teriakan suaminya …. Si ibu terjungkir dari tempat tidurnya secara sangat dramatis. Tergopoh-gopoh sang suami keluar dari kamar mandi sambil memegang selangkangan. Wajahnya sayu menampakkan ketakutan penuh. Berkeringat seperti orang selesai mandi tanpa sempat mengelap badan. “mati burungku ma, mati burungku ma … ini zakar sisa sebiji … tinggal sebijiiiiiiiieeeeeee” suaranya gemetar perih sekali, hendak berteriak tetapi malu maka jadilah mengalun seperti senandung pilu yang memecah bisik-bisik isi kamar. Dari cermin lemari tuscan terlihat bayang-bayang bocah berlompatan. Memasuki kantung bokong isteri yang tiba-tiba berdiri tegak menantang suaminya. Wajahnya yang penuh tanggung-jawab itu mencibir senyum kemenangan. Semakin banyak isi bokongnya, semakin dirasakannya kekuatan menegak didalam dirinya. Sementara si suami dengan cara jantan yang layu meminta perhatian dan kasihan. Bantu;ah kejantanku ..... tibat-tiba ....
Lalu lampu pun byarpet pet byar pet …. Salahkan PLN! Atau mereka yang mencuri saluran? atau kita yang tidak berpartisipasi membela PLN?
Cerita jadi terhenti disini. Sekalipun para setan gundul justeru sedang giat-giatnya merambah sarang duit siapa saja yang tidak di rajah alam jalalah.
Wartawan populer kita mengalihkan corong.
“Adakah tadi kau ikut memesan?”
=+++++=
No comments:
Post a Comment