Ibu tikus
Cerpen ben abel
Perangkap itu telah tertutup,
dan anak-anak berusaha melepaskan sang ibu,
tetapi apalah daya tenaga tikus,
linangan airmata dan ratap cericit tangisan, tiada terbaca sang mahluk jaya,
manusia yang sedang mendidihkan air panas di tungku,
bunyi cericit putus asa anak-anak tikus di lubang sembunyi yang sebentar lagi pun akan disiram air panas, tiada tergubris dengar sama sekali,
mungkin tenggelam dalam seruling hidung mancung sang ceret air mendidih sebagai peluit suhu yang meningkat, seolah memberi tanda penghabisan kan tiba,
sambil lalu sang ibu memesan anak-anaknya, agar jangan tetap tinggal diam disitu,
cepatlah pergi,
lupakan bunda,
kalian sudah pasti bisa melanjut hidup,
j a n g a n,
jangan saksikan kekejaman manusia ini,
apalagi meratap tangisi perjuangan ajal dan siksa siraman air panas nanti,
tidak anak-anakku,
kalian tidak boleh melihat ini semua,
bahkan tidak boleh memikirkannya,
p e r g i,
pergilah segera, lupakan tempat ini,
suara bunda teduh tenang seperti malaikat sejati,
dan para anak tikus tersekat menahan sedu sedan di kerongkongan,
dada-dada kecil mereka naik turun terpaku-paku degum gelepar,
antara hidup dan mati,
lekaslah kalian pergi lupakan ini semua,
tugasku sebagai bunda,
melahirkan, membesarkan dan mengajarkan kalian menjadi tikus-tikus baik dan bijak telah selesai,
sekarang buktikan pada bunda bahwa bunda memang berhasil,
lekaslah pergi dan lupakan semua seperti tak seorang pun suka meniti kembali jejak lampaunya,
jika kalian turutkan pesan bunda ini,
berarti bunda memang berhasil menjadi ibu tikus-tikus sejati,
dan bunda akan terus bahagia di alam baqa,
mengenang hidup sentosa anak-anak ...... dan blaz! air panas menumpahi semuanya,
tikus betina busuk nan tua itu bergelenjotan dalam jebakan kawat kuat,
menggelepar-gelepar tak pasti,
sebentar matanya memijar marah atau heran,
mungkin menahan kesakitan yang paling membahagiakan,
siapa yang tau,
nyawa sekaratnya tak lama menunggu,
dia mati basah kuyup mandi air panas terakhir,
dan bangkainya pun dilempar ke tong sampah,
sementara anak-anaknya mengikuti pesan terakhir bunda tercinta,
pergi melanjutkan hidup selaiknya tikus-tikus merdeka yang entah kapan bisa terjebak pula,
tidak ada mereka pikirkan lagi apa-apa,
selain melanjutkan hidup sebagaimana mestinya,
marabaya bukanlah ketakutan,
karena mereka telah mengetahui bagaimana buasnya manusia,
dan bagaimana perkasanya bunda melanjutkan hidup diseberang lainnya ....
tikus-tikus pun berlarian,
air-air panas mendidih terus,
dan menyiram habis terowongan gerilyawan tikus-tikus edan ....
disatu sisi kelihatan seperti perang terus,
disisi lain nampak-nampak ada permainan kucing-kucingan yang mengasyikan,
tikus dan manusia mungkin proses kebencian dan kecintaan yang melaksanakan kenyataan-kenyataan tua, usang dan tak perlu digubris lagi, sama-sama merasa menang dan berharga .... siapa tau, karena mereka tak pernah berkomunikasi, selain penjualannya di toko-toko piaraan, tikus-tikus ada yang disayang melebihi sesama tikus, dan manusia siap membayar itu semua, tapi ibu tikus dan anak-anaknya itu manalah manusia hendak ambil peduli, karena manusia sendiri tak pernah mampu mengatasi kekejamannya sendiri, bahkan teramat sering tidak mengetahui kekejamannya sendiri, tetapi itu mungkin saja opini dari bangsa tikus, sementara bangsa manusia menilai tikus sangat busuk tak perlu dikasihani ... kecuali tikus-tikus yang dijual menjadi binatang piaraan itu .... ah, itukan bukan tikus, tapi tikus dengan nilai tambah, ia barang belian dari jerih keringat budak kerja .... selamat jalan ibu tikus dan anak-anak merdekanya, sampai ketemu dalam perang air-panas berikutnya.
[ben abel, 1997]
Cerpen ben abel
Perangkap itu telah tertutup,
dan anak-anak berusaha melepaskan sang ibu,
tetapi apalah daya tenaga tikus,
linangan airmata dan ratap cericit tangisan, tiada terbaca sang mahluk jaya,
manusia yang sedang mendidihkan air panas di tungku,
bunyi cericit putus asa anak-anak tikus di lubang sembunyi yang sebentar lagi pun akan disiram air panas, tiada tergubris dengar sama sekali,
mungkin tenggelam dalam seruling hidung mancung sang ceret air mendidih sebagai peluit suhu yang meningkat, seolah memberi tanda penghabisan kan tiba,
sambil lalu sang ibu memesan anak-anaknya, agar jangan tetap tinggal diam disitu,
cepatlah pergi,
lupakan bunda,
kalian sudah pasti bisa melanjut hidup,
j a n g a n,
jangan saksikan kekejaman manusia ini,
apalagi meratap tangisi perjuangan ajal dan siksa siraman air panas nanti,
tidak anak-anakku,
kalian tidak boleh melihat ini semua,
bahkan tidak boleh memikirkannya,
p e r g i,
pergilah segera, lupakan tempat ini,
suara bunda teduh tenang seperti malaikat sejati,
dan para anak tikus tersekat menahan sedu sedan di kerongkongan,
dada-dada kecil mereka naik turun terpaku-paku degum gelepar,
antara hidup dan mati,
lekaslah kalian pergi lupakan ini semua,
tugasku sebagai bunda,
melahirkan, membesarkan dan mengajarkan kalian menjadi tikus-tikus baik dan bijak telah selesai,
sekarang buktikan pada bunda bahwa bunda memang berhasil,
lekaslah pergi dan lupakan semua seperti tak seorang pun suka meniti kembali jejak lampaunya,
jika kalian turutkan pesan bunda ini,
berarti bunda memang berhasil menjadi ibu tikus-tikus sejati,
dan bunda akan terus bahagia di alam baqa,
mengenang hidup sentosa anak-anak ...... dan blaz! air panas menumpahi semuanya,
tikus betina busuk nan tua itu bergelenjotan dalam jebakan kawat kuat,
menggelepar-gelepar tak pasti,
sebentar matanya memijar marah atau heran,
mungkin menahan kesakitan yang paling membahagiakan,
siapa yang tau,
nyawa sekaratnya tak lama menunggu,
dia mati basah kuyup mandi air panas terakhir,
dan bangkainya pun dilempar ke tong sampah,
sementara anak-anaknya mengikuti pesan terakhir bunda tercinta,
pergi melanjutkan hidup selaiknya tikus-tikus merdeka yang entah kapan bisa terjebak pula,
tidak ada mereka pikirkan lagi apa-apa,
selain melanjutkan hidup sebagaimana mestinya,
marabaya bukanlah ketakutan,
karena mereka telah mengetahui bagaimana buasnya manusia,
dan bagaimana perkasanya bunda melanjutkan hidup diseberang lainnya ....
tikus-tikus pun berlarian,
air-air panas mendidih terus,
dan menyiram habis terowongan gerilyawan tikus-tikus edan ....
disatu sisi kelihatan seperti perang terus,
disisi lain nampak-nampak ada permainan kucing-kucingan yang mengasyikan,
tikus dan manusia mungkin proses kebencian dan kecintaan yang melaksanakan kenyataan-kenyataan tua, usang dan tak perlu digubris lagi, sama-sama merasa menang dan berharga .... siapa tau, karena mereka tak pernah berkomunikasi, selain penjualannya di toko-toko piaraan, tikus-tikus ada yang disayang melebihi sesama tikus, dan manusia siap membayar itu semua, tapi ibu tikus dan anak-anaknya itu manalah manusia hendak ambil peduli, karena manusia sendiri tak pernah mampu mengatasi kekejamannya sendiri, bahkan teramat sering tidak mengetahui kekejamannya sendiri, tetapi itu mungkin saja opini dari bangsa tikus, sementara bangsa manusia menilai tikus sangat busuk tak perlu dikasihani ... kecuali tikus-tikus yang dijual menjadi binatang piaraan itu .... ah, itukan bukan tikus, tapi tikus dengan nilai tambah, ia barang belian dari jerih keringat budak kerja .... selamat jalan ibu tikus dan anak-anak merdekanya, sampai ketemu dalam perang air-panas berikutnya.
[ben abel, 1997]
No comments:
Post a Comment