Thursday, November 5, 2015

Mer[D]eka Malah Menggarong


Saban mbuka buku sejarah nasional, ada peluru memaku wajahku, dan otakku
disetir pedoman penghayatan pengamalan rasamerdeka.

Dari bab satu sampai semua, penuh interprestasi sesuai adat, dan
kepribadian "orang timuuuuuuur," dan bangsa Indonesia yang tak sempat kunilai.

Kata demi kata menghujam keintelektualanku, nalar disuruh macet, kepala
dikosongkan penuh, seperti meditasi resmi nerima sabda bhatarajiwa, karena
tak rela gagal, semua [tak] ikuti secara ing ngarso sung tulodo mangun
sarkasmu .... yang di depan nuntun, yang dibelakang mbututi ... selesai!

Buku kututup, kiraku tidur makanku bakal tenang, tapi malah saksikan
tentara negeri nembak pemuda, memopor rakyat jelata, para pejabat korupsi
mrajarela, ada jagoan dijadikan milisi buat meneror bangsa, wah ...
merdekaku tak tau rasa bangga lagi, semua pelajaran paksaan sejarah
nasionalku tadi memang tak sesuai rasa hati, dan selama ini otakku
diajarkan menjadi pura-pura merdeka.

Sekarang baru kutau aku punya otak, dan baru belajar memakainya, maka
mataku nampaklah merdeka itu di pemerintah semata, jika kau jadi pejabat
maka kemerdekaan ditangan, bagi rakyat biasa, merdeka akhirnya bagai
kesempatan menggarong.

Ini pelajaran sejarah nasional yang saban hari kutemukan.

Merdeka itu adalah kesempatan menggarong.

Bagaimana dengan kau ?

No comments: