Cacing dan Tai sungguh
Sajak Ben Abel
Busuk, sungguh busuk
bagaimana engkau bisa menaruh
kata-kata sebusuk cacing dan tai
dengan hurup besar lagi
dalam syair yang susastera merekah indah
bukankah itu pertanda kemunduran kreasimu
aku mencurigaimu sebagai provokator
engkaulah provokator yang mebalik dunia
kebusukan kau jaja sebagai keindahan
takar keindahan engkau pasok kejijikan
ih, sungguh keji nian
O keindahan sungguh
ketika kakimu tak bertelapak lagi
tapi berselimut rapi sepatu nike
yang dijahit pekerja mana-mana
dengan upah buruk dari bau ketekmu
malah dipenjara Negeri Cina
para pesakit bekerja mati-mati
tanpa gaji
O kenikmatan sungguh
ketika engkau melenggang
sampiri toserba memborong barang-barang;
tidak engkau ketahui lagi rupa hewan dan becek sayur-mayuran
yang hasilkan tubuh idealmu
agar tidak cepat usur dan hancur,
apalagi pekerja mana-mana
yang jadi tukang jagal
penyayat daging tanpa pernah makan daging
karena upahnya bukan takaranmu
Dan engkau ngeri memikiri
cacing dan tai
karena kau buang hayat
di water closed, berkeran tembaga bersih
di rumah batu indah sungguh
engkau ngeri membayangkan
taimu dimangsa cacing-cacing dunia
hingga kau merasa perlu menabungnya pada septic tank
untuk tukang sedot tinja bisa berpesta
dan yang engkau makan itu
daur ulang :
tai, cacing, kebun, pasar, dapur dan lahap piringmu
lalu kembali jadi tai
itulah keindahan sungguh
Ha .... hahaha .....
ja ... jadi kita makan .....
hahaha ...............
ya, kita tertawa sungguh
seperti kiat kesusasteraan
untuk keindahan
nikmatnya
kenikmatan
yang nikmat
Cacing dan Tai sungguh
[ben-X / mar-apr.2k1]
No comments:
Post a Comment